Selasa, 09 Desember 2008

PENELITIAN HISTORIS

Penelitian histories berbeda dari semua metode penelitian yang telah didiskusikan karena penelitian ini focus pada kejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwa masa lalu. Sehingga, para peneliti histories dalam beberapa cara melakukan penelitiannya berbeda dengan para peneliti pendidikan lainnya. Pada bab ini, kita akan mendiskusikan sifat dari penelitian histories, macam-macam topic yang diteliti, dan masalah-masalah yang dihadapi para peneliti histories.


Apa itu Penelitian Historis?

Seperti penelitiain etnografis, penelitian histories agak sedikit berbeda arahnya dari kebanyakan penelitian yang telah dijelaskan pada bab-bab sebelumnya. Yaitu, tentu saja, tidak ada manipulasi atau variable control seperti pada penelitian eksperimental, tapi terutama sekali, penelitian ini unik karena dengan keras focus pada masa lalu. Seperti yang telah disebutkan pada bab satu, beberapa aspek masa lalu dipelajari, dengan membaca secara teliti dokumen-dokumennya, dengan mempelajari barang-barang peninggalan, atau dengan cara mewawancarai individu-individu yang hidup selama waktu tersebut. Upaya kemudian dibuat untuk membangun kembali apa yang terjadi selama waktu tersebut selengkap dan seakurat mungkin, dan (biasanya) menjelaskan mengapa hal itu terjadi—meskipun hal ini tidak akan pernah bisa diselesaikan sepenuhnya karena informasi dari dan tentang masa lalu selalu tidak lengkap. Maka, penelitian histories adalah pengumpulan data yang sistematis dan evaluasi data untuk menjelaskan, menguraikan dan dengan cara demikian mengerti tindakan-tindakan atau kejadian-kejadian yang muncul beberapa waktu di masa lalu.

TUJUAN PENELITIAN HISTORIS

Peneliti pendidikan melakukan studi histories untuk berbagai alasan :

1. Agar orang mengetahui apa yang terjadi di masa lalu sehingga mereka bisa belajar dari kegagalan-kegagalan dan sukses-sukses yang diraih di masa lalu. Misalnya seorang peneliti mungkin tertarik ingin menyelidiki mengapa modifikasi kurikulum tertentu (seperti kurikulum bahasa Inggris yang baru “berorientasi-inkuiri”) berhasil di beberapa sekolah tapi tidak di sekolah lain.


2. Untuk mempelajari bagaimana sesuatu diselesaikan di masa lalu untuk melihat apakah mungkin bisa diaplikasikan pada masalah dan urusan-urusan saat ini. Daripada “membuat kembali roda” dari awal misalnya, lebih bijaksana melihat ke masa lalu untuk melihat jikalau inovasi yang diajukan belum pernah dicoba sebelumnya. Kadang-kadang suatu gagasan yang diusulkan berupa “inovasi radikal” bukan sama sekali baru. Lebih lanjut, “tinjauan literature” yang didiskusikan secara rinci di Bab 5, dimana hal tersebut dilakukan sebagai bagian dari jenis studi lainnya, merupakan penelitian histories. Seringkali tinjauan literature akan menunjukkan apa yang kita pikirkan sebagai hal baru sebenarnya telah dilakukan sebelumnya (bahkan berkali-kali!)

3. Membantu prediksi. Jika ide tertentu atau suatu pendekatan sebelumnya telah dicoba, bahkan dibawah keadaan yang agak sedikit berbeda, hasil di masa lalu bisa memberikan ide kepada para pembuat kebijakan akan menjadi apa suatu rencana yang ada saat ini. Jadi, jika “laboratorium bahasa” dianggap efektif (atau sebaliknya) di sekolah wilayah tertentu di masa lalu, wilayah lain memiliki bukti sebagai dasar petimbangan pengambilan keputusan berkaitan dengan pemanfaatan “lab bahasa”.

4. Untuk menguji hipotesis berkaitan dengan hubungan atau kecenderungan. Banyak peneliti yang kurang berpengalaman cenderung menganggap penelitian histories sifatnya deskriptif murni. Namun demikian jika dilakukan dengan hati-hati dan dirancang dengan baik, penelitian histories bisa mengarah pada penguatan atau penolakan hipotesis relasional. Di bawah ini beberapa contoh hipotesis penelitian histories:

a. Pada awal 1900an, kebanyakan guru wanita datang dari kelas menengah ke atas, tapi guru laki-laki tidak.
b. Perubahan kurikulum yang tidak melibatkan perencanaan luas dan tidak melibatkan guru biasanya gagal.
c. Teksbook ilmu social abad ke 19 menunjukkan referensi mengenai kontribusi wanita terhadap budaya Amerika dari tahun 1800 sampai 1900, meningkat.
d. Guru sekolah menengah memperoleh prestise lebih daripada guru sekolah dasar sejak tahun 1940.

Banyak hipotesis lainnya yang memungkinkan tentunya; hipotesis di atas dimaksudkan untuk menggambarkan bahwa penelitian histories bisa meminjam dari studi pengujian hipotesis.

5. Untuk memahami praktek-praktek pendidikan dan kebijakan-kebijakan masa kini secara utuh. Banyak praktek-praktek pendidikan saat ini bukan sesuatu yang baru. Pengajaran inkuiri, karakter pendidikan, kelas terbuka, dan penekanan pada “dasar”, pengajaran Sokrates, penggunaan studi kasus, instruksi individual, pengajaran kelompok, dan pengajaran “laboratorium” merupakan gagasan yang muncul kembali dari waktu ke waktu.


Pertanyaan seperti apa yang dikejar melalui penelitian histories?

Meskipun penelitian histories focus pada masa lalu, jenis pertanyaan cukup bervariasi. Beberapa contoh:

· Bagaimana siswa di bagian Selatan belajar selama Perang Saudara?
· Berapa banyak rancangan undang-undang pendidikan dikeluarkan selama kepemimpinan Lyndon B. Johnson, dan apa tujuan utama dari RUU tersebut?
· Instruksi bagi kelas empat SD 100 tahun yang lalu seperti apa?
· Bagaimana kondisi kerja guru berubah sejak 1900?
· Apa masalah utama di sekolah pada tahun 1940 dibandingkan hari ini?
· Isu pendidikan apa yang dirasa paling penting selama 20 tahun ke belakang oleh masyarakat umum?
· Bagaimana ide-ide John Dewey mempengaruhi praktek-praktek pendidikan masa kini?
· Bagaimana kontribusi wanita terhadap pendidikan?
· Bagaimana minoritas (atau yang cacat) telah diperlakukan di sekolah umum selama abad 20?
· Bagaimana politik dan praktek administrator sekolah pada awal abad ini berbeda pada tahun-tahun awal?
· Apa peran pemerintahan federal dalam pendidikan?

Langkah-langkah Penelitian Historis

Ada empat langkah dasar dalam melakukan studi histories. Langkah ini termasuk menjelaskan masalah atau pertanyaan yang harus diteliti (termasuk formulasii hipotesis jika cocok); menentukan sumber informasi histories yang relevan; meringkas dan mengevaluasi informasi yang diperoleh dari sumber-sumber ini; dan menampilkan serta menginterpretasikan informasi ini kaitannya dengan masalah atau pertanyaan studi.

Menjelaskan Masalah

Dalam bahasa paling sederhana, tujuan dari studi histories dalam pendidikan adalah menjelaskan dengan jelas dan akurat beberapa aspek dari masa lalu berkaitan dengan pendidikan dan atau sekolah. Seperti yang telah disebutkan di atas, para peneliti histories bermaksud lebih dari sekedar menjelaskan; mereka ingin lebih dari mengklarifikasi dan menjelaskan dan terkadang mengoreksi.

Oleh karena itu, masalah penelitian histories diidentifikasi sama seperti masalah-masalah yang dipelajari melalui jenis penelitian lainnya. Seperti setiap masalah penelitian, mereka harus dinyatakan secara jelas dan singkat, dapat dikendalikan, mempunyai dasar pemikiran yang bisa dipertahankan, dan (jika mungkin) menyelidiki hubungan antar variable. Hal yang agak unik pada penelitian histories adalah masalahnya bisa diseleksi jika data yang tersedia tidak cukup. Seringkali data penting (dokumen tertentu seperti catatan harian atau peta dari masa tertentu) tidak bisa ditemukan. Hal ini khususnya benar jika semakin peneliti semakin jauh melihat ke belakang. Hasilnya, lebih baik mempelajari secara mendalam masalah yang dijelaskan dengan baik serta mungkin tajam daripada mengejar masalah lebih luas yang tidak dapat dijelaskan dengan tajam, atau dipecahkan seutuhnya. Seperti penelitian lainnya, sifat masalah atau hipotesis menuntun studi; jika dijelaskan dengan baik, peneliti bisa memulai penelitian.

Beberapa contoh studi histories yang telah dipublikasikan :
· Proses pendidikan sekolah di kelas satu: Dua contoh seabac terpisah
· Tingkat kelangsungan hidup guru di St. Louis 1969-1982
· Guru-guru wanita di garis perbatasan
· Asal-usul studi social modern: 1900-1916
· Kehilangan Nilai: Pengujian intelegensi di sekolah umum Los Angeles , 1922-1932
· Respon anak-anak Indian Amerika di pendidikan sekolah Presbyterian abad ke 19: Suatu analisis melalui sumber misionaris
· Era 1960-an dan transformasi budaya kampus
· Emma Willard : Pelopor pendidikan studi social
· Inkuiri dalam administrasi pendidikan: 25 tahun ke belakang dan ke depan
· Bertrand Russell dan pendidikan di dunia kewarganegaraan
· Penurunan usia dalam meninggalkan rumah, 1920-1979

Menemukan Sumber-sumber Relevan

Kategori Sumber.
Setelah peneliti memutuskan masalah atau pertanyaan yang ingin diteliti, pencarian sumber dimulai. Segala sesuatu yang pernah ditulis dalam dokumen atau lainnya, dan sebenarnya setiap objek yang dikumpulkan merupakan sumber potensial bagi penelitian histories. Namun secara umum, materi sumber histories dapat dikelompokkan ke dalam empat kategori dasar: dokumen, catatan numeric, pernyataan oral serta barang peninggalan.

1. Dokumen : Dokumen adalah bahan tertulis atau tercetak yang telah dihasilkan dalam suatu bentuk –catatan tahunan, kerja seni, undang-undang, buku, kartun, surat edaran, catatan harian, diploma, catatan legal, surat kabar, majalah, catatan buku, buku almamater sekolah, memo, tes dan lain-lain. Mreka bisa tulis tangan, cetak, ketik, gambar atau sketsa; bisa terpublikasikan atau tidak; bisa ditujukan untuk konsumsi public atau pribadi; bisa orisinal atau kopian. Singkatnya, dokumen merujuk pada setiap informasi yang ada baik tertulis atau cetak.

2. Catatan Numerik: Catatan numerik atau quantitative bisa dianggap baik sebaik jenis sumber terpisah di dalam atau pada dirinya sendiri atau sebagai subkategori dari dokumen. Catatan seperti ini termasuk setiap jenis data numeric dalam bentuk tercetak: nilai tes, gambaran kehadiran, catatan sensus, pengeluaran sekolah, dan semacamnya. Pada tahun-tahun belakangan ini, terjadi peningkatan pemanfaatan computer oleh para peneliti histories untuk menganalisis sejumlah data numeric yang sangat banyak.

3. Pernyataan lisan : informasi berharga lainnya bagi peneliti histories ada pada orang-orang yang memberikan pernyataan secara lisan. Cerita, mitos, legenda, dongeng, nyanyian, lagu dan bentuk ekspresi lisan lainnya telah digunakan bertahun-tahun sebagai catatan bagi generasi selanjutnya. Tapi sejarawan juga bisa mengadakan wawancara lisan dengan orang-orang yang saksi dari kejadian-kejadian di masa lalu. Ini adalah bentuk khusus dari penelitian histories, yang disebut sejarah lisan, yang baru-baru ini sedikit mengalami renaisans.

4. Barang-barang peninggalan: Jenis keempat dari sumber histories adalah barang pustaka. Barang pustaka adalah setiap objek dimana karakteristik fisika atau visualnya bisa menyediakan beberapa informasi tentang masa lalu. Contohnya mebel, kerja seni, pakaian, bangunan, monument, atau peralatan.

Berikut ini adalah contoh-contoh sumber-sumber histories:
· Alat utama yang digunakan di kelas pada abad ke 17
· Catatan harian yang disimpan seorang guru wanita di perbatasan Ohio tahun 1800an
· Argumen-argumen tertulis melawan isu obligasi sekolah seperti yang terpublikasikan di surat kabar pada waktu tertentu
· Buku tahunan SMP tahun 1958
· Contoh pakaian yang dipakai siswa awal abad ke 19 di pedesaan Georgia
· Diploma kelulusan SMA dari tahun 1920an
· Memo tercatat dari pimpinan sekolah kepada staf pengajarnya
· Catatan kehadiran dari dua sekolah berbeda selama 40 tahun
· Tulisan esai oleh anak-anak SD selama Perang Saudara
· Nilai tes yang diperoleh siswa di berbagai negara bagian pada waktu yang berbeda
· Rekaman wawancara lisan dengan sekretaris pendidikan pada tiga masa kepresidenan yang berbeda

Sumber Primer vs Sekunder.
Seperti pada semua penelitian, penting untuk membedakan antara sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer adalah sumber yang disiapkan seorang saksi atau partisipan langsung kejadian di masa lalu. Laporan saksi tentang pembukaan sekolah baru bisa menjadi suatu contoh. Contoh sumber primer lainnya adalah :

· Lapran guru abad 19 mengenai bagaimana rasanya hidup dengan keluarga perbatasan
· Transkrip wawancara lisan dengan pimpinan sekolah tingkat atas di kota besar berkaitan dengan masalah yang dihadapi distriknya
· Tulisan essay siswa dalam menjawab, “Apa yang paling kalian suka dan tidak suka dari sekolah?”
· Lagu yang dibuat oleh anggota paduan suara sekolah tingkat atas
· Detik-detik pertemuan dewan sekolah yang dicatat oleh sekretaris dewan
· Evaluasi yang ditulis oleh konsultan dari kurikulum Prancis yang baru
· Foto lulusan kelas 8 tahun 1930
· Surat yang ditulis antara siswa Amerika dan siswa Jepang menjelaskan pengalaman sekolah mereka

Sumber sekunder, sebaliknya, adalah dokumen yang disiapkan oleh individu yang tidak langsung mengalami peristiwa, tapi yang memperoleh penjelasan kejadian dari seseorang. Contohnya editorial suratkabar yang baru-baru ini mengomentari unjuk rasa guru. Contoh lain dari sumber sekunder adalah sebagai berikut :
· Ensikopledia menjelaskan beragam jenis penelitian pendidikan yang dilakukan selama periode 10 tahun
· Artikel majalah meringkas pandangan Aristoteles tentang pendidikan
· Tanggapan suratkabar terhadap pertemuan dewan sekolah berdasarkan wawancara lisan dengan anggota dewan sekolah
· Buku yang menjelaskan pendidikan di sekolah pada masa koloni Inggris Baru selama tahun 1700an
· Penjelasan orangtua mengenai percakapan anaknya dengan gurunya (orang tua tersebut tidak hadir saat percakapan terjadi)
· Laporan siswa pada walikelasnya tentang alasan dia dikeluarkan oleh gurunya dari sekolah
· Buku teks tentang penelitian pendidikan

Sebisa mungkin, sejarawan (seperti peneliti lain) ingin menggunakan sumber primer daripada sumber sekunder. Karena ketika seorang peneliti harus bergantung pada sumber data sekunder berarti dia menambah kesempatan data menjadi kurang akurat atau kurang rinci. Keakuratan data yang dilaporkan juga menjadi lebih sulit dicek kebenarannya. Sayangnya, sumber primer diakui lebih sulit diperoleh, terutama sumber kejadian yang masanya sangat lampau. Sumber sekunder merupakan suatu kebutuhan, oleh karena itu sumber sekunder digunakan cukup luas dalam penelitian histories. Namun demikian, jika semua sumber tersedia, penggunaan sumber primer lebih diprioritaskan.

MERINGKAS INFORMASI YANG DIPEROLEH DARI SUMBER-SUMBER HISTORIS

Proses mengulas kembali dan menyaring data dari sumber histories pada dasarnya dijelaskan pada Bab 5—menentukan relevansi materi tertentu dengan pertanyaan atau masalah yang diselidiki; mencatat data sumber bibliografi yang utuh; mengorganisasikan data yang dikumpulkan dalam kategori-kategori berkaitan dengan masalah yang diselidiki (untuk suatu studi mengenai aktifitas harian yang muncul pada abad ke 19 di kelas SD, seorang peneliti dapat mengorganisir fakta-fakta ke dalam kategori seperti “pelajaran yang diajarkan”, “aktifitas pembelajaran”, “aktifitas bermain”, dan “tata tertib kelas”); serta meringkas informasi yang berhubungan (fakta penting, kutipan, dan pertanyaan) pada kartu catatan.

Namun demikian, pembacaan dan ringkasan data histories itu jarang rapi dan teratur. Edward J. Carr, seorang sejarawan, memberikan penjelasan berikut ini bagaimana sejarawan terikat dalam penelitian :

“Asumsi umum (diantara orang-orang awam) muncul bahwa sejarawan membagi pekerjaannya ke dalam dua fase atau periode yang dapat dibedakan. Fase pertama, dia menghabiskan waktu persiapan untuk membaca sumber dan memenuhi catatannya dengan fakta-fakta; kemudian, ketika fase ini selesai dia menyimpan sumber-sumber, mengambil bukunya kemudian menulis dari awal sampai akhir. Hal ini bagi saya merupakan hal yang diragukan dan gambaran yang tidak masuk akal. Bagi saya sendiri, segera setelah saya membaca beberapa sumber-sumber utama, keinginan menjadi sangat kuat lalu saya mulai menulis—tidak perlu di fase awal persiapan, tapi kapan saja, dan dimana saja. Setelah itu, membaca dan menulis dilakukan secara serempak. Tulisan ditambah, dikurangi, dibentuk kembali dan dibatalkan saat saya membaca. Bacaan dipandu dan diarahkan oleh tulisan; semakin saya menulis, semakin tahu apa yang saya cari, dan semakin saya mengerti kebermaknaan dan relevansi apa yang saya temukan”

EVALUASI SUMBER-SUMBER HISTORIS

Peneliti histories harus mengadopsi sikap kritis terhadap setiap dan semua sumber yang dia review. Peneliti tidak akan pernah yakin tentang keaslian dan keakuratan sumber-sumber histories. Suatu catatan mungkin saja ditulis oleh seseorang yang berbeda dengan orang yang menandatangani catatan tersebut. Suatu surat mungkin saja merujuk pada kejadian yang tidak terjadi, atau terjadi pada waktu dan tempat yang berbeda. Suatu dokumen mungkin telah dipalsukan atau informasi dengan sengaja dipalsukan. Pertanyaan kunci bagi setiap peneliti histories adalah :
· Apakah dokumen ini benar-benar ditulis oleh penulis sebenarnya? (apakah dokumen ini asli?)
· Apakah informasi yang terdapat dalam dokumen ini benar ? (apakah dokumen ini akurat?)

Pertanyaan pertama merujuk pada apa yang disebut kritik eksternal; yang kedua disebut kritik internal.

Kritik Eksternal. Kritik eksternal merujuk pada keaslian setiap dan semua dokumen yang digunakan peneliti. Para peneliti yang terikat pada penelitian histories ingin mengetahui apakah dokumen yang mereka temukan benar-benar dipersiapkan oleh penulisnya yang asli. Jelas sekali, dokumen palsu dapat (dan kadang-kadang ya) mengarah pada kesimpulan yang keliru. Beberapa pertanyaan muncul dalam mengevaluasi keaslian sumber histories:

· Siapa yang menulis dokumen ini? Apakah penulis hidup pada masa tersebut? Beberapa dokumen histories telah terbukti dipalsukan. Sebuah artikel yang ditulis oleh Martin Luther King, Jr. sebenarnya mungkin saja dibuat oleh seseorang yang berusaha untuk menodai reputasi Martin Luther King Jr.
· Apa tujuan penulisan dokumen? Untuk siapa dokumen ditujukan? Dan mengapa?
· Kapan dokumen ditulis? Apakah tanggal yang tertera pada dokumen itu akurat? Apakah detil yang dijelaskan sebenarnya benar-benar terjadi pada saat itu?
· Dimana dokumen ditulis? Apakah detil yang dijelaskan terjadi di tempat tersebut?
· Di bawah kondisi apa dokumen ditulis? Apakah ada kemungkinan yang ditulis itu suatu paksaan?
· Apakah ada bentuk atau versi dokumen yang lain?

Hal yang penting untuk diingat berkaitan dengan kritik eksternal adalah peneliti sebaiknya memastikan bahwa mereka menggunakan dokumen asli. Pertanyaan-pertanyaan di atas diarahkan sampai disini.

Kritik Internal. Sekali peneliti merasa puas bahwa dokumen sumbernya asli, mereka perlu menentukan apakah isi dari dokumen tersebut akurat. Hal ini melibatkan apa yang disebut kritik internal. Baik keakuratan informasi yang terkandung dalam dokumen maupun kebenaran penulis perlu dievaluasi. Kritik eksternal berkaitan dengan sifat atau keotentikan dari dokumen itu sendiri, sedangkan kritik internal berkaitan dengan isi dari dokumen. Apakah yang ditulis penulis benar-benar terjadi? Apakah orang-orang yang hidup pada masa itu berperilaku seperti yang penulis gambarkan? Benarkah peristiwa terjadi dengan cara cara seperti yang tertulis pada dokumen? Apakah data yang ditampilkan masuk akal? Namun, harus dicatat, bahwa peneliti sebaiknya tidak menolak pernyataan dalam dokumen itu kurang akurat hanya karena dia tidak mempercayainya—tidak mempercayai bahwa peristiwa itu terjadi. Peneliti harus menentukan apakah kejadian tertentu itu mungkin terjadi, bahkan jika peristiwa itu tidak dipercayai. Seperti kritik eksternal, beberapa pertanyaan perlu dikemukakan dalam upaya mengevaluasi keakuratan suatu dokumen dan kebenaran penulis dokumen tersebut.

Dengan rasa hormat pada penulis dokumen :

· Apakah penulis ada pada saat kejadian yang dia jelaskan? Dengan kata lain, apakah dokumennya merupakan sumber primer atau sekunder? Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, sumber-sumber primer lebih dipilih daripada sumber sekunder karena dianggap lebih akurat.
· Apakah penulis merupakan partisipan di dalamnya atau sebagai pengamat dari kejadian? Secara umum, kita mungkin berharap pengamat menghadirkan pandangan yang terpisah dan komprehensif tentang suatu kejadian. Saksi mata jelas berbeda laporannya mengenai kejadian yang sama, sebab itu pernyataan pengamat tidak lebih akurat dibandingkan pernyataan partisipan.
· Apakah penulis berkompeten menjelaskan kejadian? Hal ini merujuk pada kualifikasi penulis. Apakah penulis merupakan ahlinya? Seorang pengamat yang tertarik? Atau hanya “orang yang lewat saja?”
· Apakah penulis terlibat secara emosional dalam kejadian? Isteri seorang guru yang dipecat, misalnya mungkin dapat memberikan pandangan yang menyimpang mengenai kontribusi guru terhadap profesinya
· Apakah penulis memiliki interes pribadi pada hasil dari kejadian? Seorang siswa yang selalu berbeda pendapat dengan gurunya, cenderung menggambarkan gurunya secara negative daripada kolega guru tersebut

Dengan rasa hormat terhadap isi dokumen :

· Apakah isi dokumen masuk akal (sifat dari kejadian yang dijelaskan, apakah tampak masuk akal sehingga kejadian terjadi seperti yang digambarkan)?
· Apakah kejadian yang dijelaskan telah muncul pada saat itu? Contohnya, seorang peneliti mencurigai dokumen Perang Dunia ke II pada tahun 1946
· Mungkinkah orang berperilaku seperti yang dijelaskan? Bahaya utama dalam hal ini disebut presentisme—menganggap tulisan itu berasal dari kepercayaan saat ini, nilai dan ide orang-orang yang hidup pada waktu yang berbeda. Masalah yang agak berhubungan adalah historical hindsight. Hanya karena kita mengetahui bagaimana suatu peristiwa terjadi, bukan berarti orang-orang yang hidup sebelum atau selama peristiwa tersebut percaya bahwa hasilnya seperti yang tertulis.
· Apakah bahasa dokumen memberi kesan bias? Apakah secara emosional merupakan melampaui batas atau sebaliknya cenderung miring? Mungkinkah etnis, gender, agama, partai politik, status social ekonomi atau posisi penulis memberi kesan orientasi tertentu? Contohnya, suatu laporan guru tentang pertemuan dewan sekolah mengenai pemilihan kenaikan gaji berbeda laporannya dengan salah satu anggota dewan sekolah.
· Apakah ada versi lain mengenai peristiwa tersebut? Apakah isi dokumen menghadirkan deksripsi atau interpretasi berbeda mengenai apa yang terjadi? Namun ingat bahwa hanya karena mayoritas pengamat peristiwa menyetujui apa yang terjadi, bukan berarti isi dokumen tersebut selalu benar. Pada lebih dari satu peristiwa, pandangan minoritas terbukti benar.

Generalisasi Penelitian Historis

Dapatkah peneliti-peneliti historis menggeneralisasikan penemuan-penemuannya? Tergantung. Mungkin tampak jelas bagi anda, peneliti historis jarang (kalaupun ada),mampu mengkaji keseluruhan populasi individu atau keseluruhan populasi peristiwa. Para peneliti selalu memiliki sedikit pilihan kecuali dalam mengkaji suatu sampel tentang fenomena minat (phenomena of interest). Dan sampel yang dikaji ditentukan oleh sumber-sumber historis yang tersisa dari masa lampau. Berikut ini merupakan masalah tertentu bagi sejarawan, ketika dokumen-dokumen nyata, peninggalan-peninggalan bersejarah, dan sumber-sumber lainnya hampir selalu hilang, telah dihilangkan, atau dengan cara-cara lainnya tidak dapat ditemukan. Sumber-sumber yang tersedia ini barangkali tidak mewakili seluruh sumber yang mungkin saja ada.
Perkiraan, contohnya, seorang peneliti tertarik dalam memahami bagaimana studi sosial diajarkan di sekolah menengah pada akhir tahun 1800. peneliti dibatasi untuk mengkaji sumber-sumber apa saja yang tersisa pada saat. Peneliti dapat menggunakan beberapa buku teks yang ada pada waktu itu, ditambah buku-buku tugas, rencana-rencana pelajaran, tes-tes, surat-surat, dan korespondensi yang ditulis oleh guru-guru dan catatan harian guru-guru selama periode tersebut. berdasarkan pada review yang seksama terhadap sumber materi, peneliti menggambarkan beberapa kesimpulan tentang sifat pengajaran studi sosial pada saat itu. Peneliti perlu mengingat bahwa seluruhnya merupakan sumber-sumber tulisan dan sumber-sumber tulisan tersebut mungkin merefleksikan suatu pandangan yang berbeda dari orang-orang yang cenderung tidak menuliskan pemikiran-pemikiran, ide-ide, atau tugas-tugas mereka. Apa yang mungkin dilakukan oleh peneliti? Seperti semua penelitian, validitas setiap generalisasi yang digambarkan dapat diperkuat dengan menambah ukuran dan diversitas sampel data dimana generalisasi didasarkan. Untuk studi-studi yang melibatkan catatan studi kuantitatif, komputer membuat generalisasi mungkin terjadi, contohnya, bagi seorang peneliti dapat menggambarkan sampel data yang representatif dari kelompok-kelompok besar siswa, guru, dan elemen-elemen lain dapat diwakili oleh dokumen-dokumen sekolah, skor tes, laporan sensus, dan dokumen lainnya.


Keunggulan dan Kelemahan Penelitian Historis
Keunggulan utama penelitian historis adalah penelitian ini mengijinkan penyelidikan tentang topik-topik dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dikaji oleh penelitian lain. Penelitian historis merupakan satu-satunya penelitian yang dapat mengkaji bukti-bukti dari masa lampau dalam hubungannya dengan pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan di awal bab ini. Sebagai tambahan, penelitian historis menggunakan macam-macam bukti yang berbeda dibandingkan metode penelitian lainnya (dengan pengecualian penelitian studi kasus dan etnografi). Penelitian historis menyediakan suatu alternatif dan mungkin sumber informasi yang lebih kaya tentang topik-topik nyata yang juga dapat dikaji melalui metodologi lainnya. Seorang peneliti berharap menyelidiki hipotesis bahwa “perubahan kurikulum tidak melibatkan perencanaan luas dan partisipasi yang melibatkan guru-guru selalu gagal” dengan mengumpulkan data wawancara atau hasil observasi terhadap kelompok-kelompok guru yang (1) berpartisipasi dan (2) tidak berpartisipasi dalam pengembangan perubahan kurikulum (studi kausal komparatif) atau dengan mengatur partisipasi guru yang berbeda-beda (suatu studi eksperimental). Pertanyaan dapat juga dikaji dengan menguji dokumen-dokumen yang disiapkan 50 tahun kebelakang melalui penyebarluasan kurikula baru (laporan penyebarluasan); melalui guru-guru (catatan-catatan hariannya).

Kelemahan penelitian historis adalah tidak adanya kontrol yang mengendalikan gangguan terhadap validitas internal. Pembatasan dilakukan oleh sifat sampel dokumen dan proses instrumentasi (analisis dokumen) barangkali begitu ketat. Peneliti-peneliti tidak dapat menjamin keterwakilan sampel (representativeness of the sample), ataupun apakah mereka dapat memeriksa reliabitas dan validitas terhadap penafsiran yang dibuat dari data yang tersedia. Tergantung pada pertanyaan yang dikaji, seluruh atau beberapa gangguan terhadap validitas internal telah kita diskusikan di bab 12. Kemungkinan terjadinya bias disebabkan karakteristik peneliti (dalam pengumpulan dan analisis data) selalu muncul. Kemungkinan bahwa adanya hubungan yang diobservasi disebabkan karakteristik subjek (individu yang menyiapkan dokumen), implementasi, sejarah, kedewasaan, sikap, atau gangguan lokasi juga selalu terjadi. Walaupun setiap gangguan tergantung pada sifat studi tertentu, metode untuk mengontrol gangguan sayangnya tidak tersedia pada peneliti. Sebab banyak hal bergantung pada kemampuan dan integritas peneliti-ketika kontrol-kontrol metodologis tidak tersedia- kita percaya bahwa penelitian historis merupakan jenis penelitian yang paling sulit dilaksanakan.

CONTOH PENELITIAN HISTORIS
Diakhir bab ini dihadirkan contoh penelitian historis yang diikuti oleh kritik terhadap keunggulan dan kelemahannya.

ANALISIS TERHADAP STUDI
Tujuan / pembenaran
Tujuan dari studi ini sudah jelas, untuk menyelidiki pengajaran studi sosial dalam kampanye literasi dibagian selatan amerika selama tahun 1915-1930. pembenaran (justifikasi) dalam studi ini kurang jelas. Apakah penting mengklarifikasi hubungan antara studi sosial dan tujuan dasar dari gerakan, yang mana yang dapat meningkatkan literasi? Penulis percaya bahwa hasil analisisnya berdampak terhadap usaha-usaha yang ada untuk mengubah bentuk studi sosial, tapi penulis tidak secara langsung menjustifikasi studi mereka pada ranah ini.

Definisi
Tidak ada definisi yang diberikan. Yang penulis lakukan hanya menjelaskan kampanye literasi. Istilah umum lainnya, termasuk “studi sosial”, “kewarganegaraan”, dan “patriotisme” tidak dibatasi kecuali oleh implikasi dalam isi penelitian.

Penelitian yang Mendahului

Tidak ada kutipan mengenai penelitian terdahulu; agaknya tidak ada petunjuk secara khusus berkenaaan dengan topic pada studi ini. Seperti biasa dalam penelitian histories, yang berperan sebagai sumber informasi bukanlah penelitian terdahulu melainkan bukti-bukti.

Hipotesis
Hipotesis tidak dinyatakan atau tidak tercantum secara jelas. Tampaknya penulis tidak memiliki ekspektasi untuk apa data ditunjukkan, dengan memberitahukan hipotesis dapat memperbaiki studi yang dilakukan peneliti. Contoh hipotesis: “ Materi-materi kurikulum yang dikembangkan sebagai bagian dari kampanye literasi di bagian Selatan Amerika (Southern Literacy Campaign) menunjukkan suatu usaha yang dengan sengaja mengajarkan Amerika Serikat, dalam keadaan perang maupun damai, bertindak menggunakan prinsip-prinsip moral yang tinggi.”

Sampel
Persoalan pengambilan data (sampling) pada penelitian histories merupakan hal yang berbeda dibandingkan pada penelitian lainnya. Tidak ada populasi orang-orang yang dijadikan sample. Hal ini disebabkan bahwa suatu populasi dokumen-dokumen yang relevan (atau sumber informasi relevan lainnya) dapat menjadi sampel secara acak. Jarang, dan jika terjadi, bagaimanapun, ada alasan yang memaksa untuk tidak menggunakan seluruh dokumen. Tugas peneliti histories adalah menemukan dokumen-dokumen, menganalisis keaslian dokumen, dan, jika perlu, menilai manfaat relative dokumen-dokumen tersebut.Kita harus berasumsi bahwa tugas-tugas tersebut telah dilakukan pada studi ini.

Instrumentasi
Sekali lagi, tidak ada instrumentasi yang dibicarakan pada studi ini. Yang dimaksud dengan instrument di sini adalah pembawaan peneliti dalam menemukan, mengevaluasi, dan menganalisis sumber-sumber yang berkaitan. Konsep reliabilitas memiliki sedikit hubungan dengan data histories karena masing-masing data tidak secara bermakna mempertimbangkan sebuah sample yang melintasi isi ataupun waktu. Persoalan validitas, di sisi lain merupakan hal terpenting. Validitas ditujukan melalui evaluasi sumber-sumber dan melalui perbandingan sumber-sumber berkenaan dengan hal-hal yang sama (peristiwa, peristiwa, objek-objek, dan lainnya). Pada studi ini, penulis telah mempertahankan sumber-sumbernya-kita harus menerima kredibilitas penulis. Tidak ada satupun bukti-bukti langsung yang merupakan sumber-sumber berbeda telah mereka hadirkan sepakat dengan mematuhi hal-hal tersebut. PEnulis telah mengutip beberapa sumber dari materi-materi kurikulum mendukung kesimpulan penulis, yaitu bahwa patriotisme ditanamkan dalam mater-materi literasi. Kutipannya,bagaimanapun, seluruhnya merupakan karya seorang penulis (Cora Wilson Stewart), dengan tidak ada demonstrasi bahwa karyanya dominant atau khas dalam penggunaan bahan ajar. Dengan rasa hormat terhadap “kewarganegaraan”,dua penulis dikutip, tapi bukan mendukung hal yang sama, yaitu, kutipan dari Gray yang menekankan penerapan keadilan yang sederajat untuk semua warga negara, sementara kutipan dari Stewart yang mendukung pelayanan pemerintah.

Prosedur/ Validitas Internal
Laporan penelitian ini lemah dalam hal perencanaan sistematis. Tidak ada pembahasan tentang merencanakan jenis-jenis sumber yang diikuti, merencanakan criteria yang akan dianalisis secara rinci, atau bagaimana analisis akan dilaksanakan. Setelah bagian Pendahuluan, penulis dengan segera memberikan kutipan tanpa menyediakan alasan mengapa kutipan ini dipilih. Suatu bagian pada metode nampak diperlukan.
Secara keseluruhan, prosedur yang diikuti jelas-jelas dipotong (clear-cut). Penulis-penulis pada dasarnya melibatkan penemuan dan analisis berikutnya tentang sumber-sumber informasi yang berkaitan. Replikasi studi memerlukan hanya dokumen-dokumen yang sama (atau mungkin pilihan) yang diperoleh dan dianalisis. Sifat studi ini membuat banyak gangguan terhadap validitas internal yang telah kita diskusikan tidak berlaku di studi ini, karena tidak ada hubungan diantara variable yang dilaporkan. Pengecualian-pengecualian adalah mengenai bias kolektor data dan karakteristik kolektor data. Karena penelitian historis seluruhnya menyandarkan pada interpretasi dan informasi data pendukung dari peneliti, satu yang tidak akan pernah menjadi nyata bahwa suatu studi individual, seperti studi ini, bukan merupakan produk bias perseorangan dari peneliti ataupun karakteristik peneliti.

Analisis data
Prosedur analisis data, tidak digunakan pada studi ini, jugatidak sejelas dengan yang seharusnya terjadi. Beberapa pengolahan dari frekuensi keterjadian dari topic yang spesifik dapat memperkuat interpretasi penulis.

Hasil dan Pembahasan
Secara umum, hasil studi seharusnya dijaga terpisah dari pembahasan hasil, namun pemisahan ini sangat sulit diterapkan pada penelitian histories.Pertanyaan yang diajukan disini apakah data yang disediakan membenarkan kesimpulan penulis. Anggapan-anggapan penulis bahwa isi studi social dari kampanye literasi di bagian selatan Amerika menjadikan arus ekspektasi social tidak didokumentasikan, mensyaratkan agar pembaca membuat perbandingannya sendiri dalam hal ini. Pernyataan penulis bahwa kemampuan analitis dan kemampuan kritis tidak ditekankan, hal ini konsisten dengan contoh-contoh yang diberikan, namun tidak secara khusus didokumentasikan.
Kesimpulan penulis bahwa studi social tidak sama penting dengan tujuan lainnya dalam kampanye tampak diberikan sejak penekanan dasar, seperti yang penulis nyatakan pada permulaan, dalam membaca dan menulis. Tidaklah mengejutkanbahwa tujuan studi social tidaksama pentingnya dengan tujuan ekonomi dalam motivasi pembuat rencana kampanye. Kita menyetujui bahwa pola-pola ini saat ini masih ada, kita tidak memandang bahwa penulis telah mendokumentasikan pada kasus ini.
Akhirnya, tidak jelas bagi kita bagaimana studi ini membenarkan kesimpulan-kesimpulan, dinyatakan pada bagian pendahuluan, bahwa perubahan studi social terbukti sangat sulit. Bukti-bukti yang ditawarkan bahwa konsep-konsep baru tidak dicerminkan pada materi-materi literasi (yang diharapkan), namun di sini tidak ada bukti yang dapat kita lihat, bahwa usaha-usaha yang dilakukan melalui studi social untuk memajukan kewarganegaraan dan patriotisme tidak sepenhnya berhasil. Lalu, apakah hal ini berlaku saat sekarang?

1 komentar:

christ_farma mengatakan...

buat donk contoh penelitian historis bidang farmasi...