Sabtu, 05 Januari 2008

PARADIGMA PEMBELAJARAN SAINS DI KALANGAN SANTRI

Sains merupakan salah satu disiplin ilmu yang cukup familiar terdengar di kalangan akademisi umum. Tetapi apakah Sains cukup familiar di kalangan pesantren? Ternyata, Sains kurang begitu familiar di kalangan para santri. Karena wawasan kita selama ini masih terbelenggu pada dikotomi yang kurang tepat mengenai ilmu ”dunia” dan ”akhirat”. Sehingga para santri cenderung enggan belajar ilmu-ilmu non-agamis. Mereka masih berpandangan bahwa ”ilmu dunia” kurang memberikan jaminan di kehidupan di akhirat. ”Ilmu dunia” cenderung diacuhkan dan kurang diperhatikan oleh para santri di lingkungan sekolah yang berada di pondok pesantren. Sekolah formal di lingkungan pondok pesantren hanya memasukkan materi subyek Sains sebagai tuntutan kurikulum belaka. Sehingga pembelajarannya cenderung ”asal hanya ada saja”. Lebih parah lagi guru yang mengampu materi subyek Sains bukan orang berlatar belakang pendidikan Sains (Fisika, Kimia, dan Biologi). Sehingga para santri sangat enggan belajar ilmu-ilmu yang konon katanya tidak berlandaskan agama itu. Padahal, perkembangan Sains dan Teknologi yang begitu pesat sekarang ini menuntut semua kalangan untuk bisa memanfaatkan maupun mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kita mengacuhkan Sains dalam kehidupan, maka kita hanya akan terbelenggu pada pembelajaran yang bersifat konvensional belaka.
Munculnya pondok pesantren yang bernafaskan modern, cukup memberikan angin segar dengan perkembangan pembelajaran Sains pada khususnya dan pembelajaran materi subyek di luar lingkungan keagamaan. Walaupun begitu, perkembangan ini tidak begitu pesat sesuai yang diharapkan. Karena paradigma dikotomi ”ilmu agama” dan ”ilmu dunia” masih melekat di benak para santri. Selain itu, profesionalisme guru (ustadz) yang mengajarkan materi subyek Sains perlu untuk ditingkatkan lagi. Baik dari segi kuantitas yang masih sangat kurang, maupun kualitasnya yang cenderung tertinggal bila dibandingkan dengan sekolah formal di luar lingkungan pesantren (lembaga keagamaan) seperti DEPAG.
Baru-baru ini, DEPAG memberikan kucuran beasiswa bagi kalangan guru di lingkungan DEPAG (guru Sains di pesantren, MTs, dan MA) untuk melanjutkan studi Strata 2 (S2) di Perguruan Tinggi yang cukup bonafit di Indonesia seperti: ITB, UGM, ITS, dll. Apakah langkah ini sudah memberikan solusi terbaik? Menurut hemat penulis, langkah ini sudah memberikan solusi tetapi belum bisa memecahkan masalah intinya. Masalah yang dihadapi santri berkutat pada perlu tidaknya mereka belajar ilmu yang tidak menyangkut dalil-dalil agama di dalamnya (claim santri). Dengan menyekolahkan guru Sains (Fisika) di Perti yang bukan berlandaskan pendidikan, secara konsep guru-guru tersebut akan jauh meningkat di bandingkan aslinya. Tetapi, apakah mereka bisa menerapkannya di lingkungan kerjanya kelak? Pembelajaran tidak melulu mengenai penguasaan konsep saja, pedagogi melebihi dari hal itu. Jika kita tidak mengetahui strategi apa yang harus diterapkan dalam pembelajaran Sains di lingkungan pesantren, kita akan terjebak pada matematis dan logika ilmu belaka. Tidak ada gunanya guru yang memiliki wawasan yang luas, tetapi mereka tidak bisa membelajarkan siswanya (santrinya) dengan baik. Karena pembelajaran Sains (Fisika) tanpa menggunakan pedagogi (ilmu pendidikan dalam konteks strategi pembelajaran) akan hambar dan kurang bermakna. Seperti kata pepatah lama mengatakan ”bagai makan sayur tanpa garam”. Walaupun kita sudah merasa makan sayur (merasa membelajarkan para santri) tentang pendidikan Sains, sebenarnya kita (Guru) belum membubuinya dengan garam (melakukan pembelajaran dengan pedagogi) secara benar. Pembelajaran akan berjalan selayaknya yang guru dapatkan di perti, yaitu dengan intelektual dan idealitas keilmuwan yang tinggi dan cenderung mengabaikan pedagogi yang seharusnya. Sehingga pembelajaran cenderung kurang humanis (memanusiakan manusia), karena siswa akan dijejali dengan latihan-latihan soal tanpa mereka tahu fenomena alam yang lebih bermakna.
Perkembangan Sains dan teknologi yang sangat pesat sekarang ini, mau tidak mau para santri pada khususnya dan siswa pada umumnya harus selalu siap menghadapinya. Jika pembelajaran Sains saja belum bisa dikuasai dengan baik oleh para santri, maka santri akan terkungkung pada kajian ilmu agama saja. Sehingga kehidupan keilmuan mereka akan timpang dan tidak berimbang. Maka mereka akan cenderung menjadi manusia yang mengabaikan kehidupan dunianya. Jika umat Islam pada umumnya dan para santri sebagai generasi muda acuh terhadap perkembangan Sains dan teknologi, maka yang terjadi kita akan selalu tertindas oleh ”Globalisasi” yang didengung-dengungkan orang Barat.
Sains memang bukan ilmu utama bagi kalangan santri, tetapi tanpa Sains hidup di dunia menjadi kurang bermakna. Karena Sains berasal dari alam, tanpa kita tadabur dengan alam, kita tidak akan bisa mensyukuri nikmat Allah yang tiada taranya ini. Makanya kita jangan mendikotomikan ilmu sesuai pemahaman kita saja yaitu ”ilmu dunia” dan ”ilmu akhirat”. Padahal sesuai pemahaman penulis, semua ilmu berasal dari Sang Maha Mengetahui (Allah SWT).


Oleh:
Achmad Samsudin, S.Pd.
Ex. Guru Fisika di Pondok Modern Selamat Kendal Jateng
Sekarang sedang melanjutkan studi S2 Pendidikan IPA/ Fisika SL SPs UPI Bandung
Alamat Rumah:
Ds. Johorejo Rt 4 Rw 1 Gemuh Kendal Jateng Kode Pos 51356

2 komentar:

hoed_art mengatakan...

Trim's Pak Sam.. Tulisan Bpk mengingatkanku pada seseorang yang juga pernah berkecimpung di dunia pendidikan, khususnya mendidik santri "agama" untuk melek "umum". walau dalam bhs tasawuf (dunia favorit santri), agama/akherat adalah setiap yg mengingatkan kpd Allah, apapun bentuknya mau amalan duniawi atau amalan ukhrowi, sementara umum/duniawi adalah apapun saja yang justru menjauhkan kita dari mengingat Allah, apapun bentuknya. Nah.. bukankah begitu?

Anonim mengatakan...

Terima kasih atas masukan dan sarannya. saya tunggu masukan yang membangun lainnya. Syam